NU Cabang Istimewa Malaysia
Rapat Evaluasi Kerja NUCIM PDF Print E-mail
Written by Muhammad Miqdam Makfi   
Saturday, 19 May 2012 13:53

Jumat (18/5), Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama menggelar rapat evaluasi kerja di kediaman Ust. Mohd. Hari, Greenwood, Batu Caves. Walau hanya dihadiri sekitar separuh dari seluruh pengurus NUCIM (NU Cabang Istimewa Malaysia), rapat tetap dilaksanakan dengan penuh keseriusan.

Agenda rapat pada malam itu adalah evaluasi kinerja pengurus dengan berkaca pada program kerja yang tela disepakati pada rapat seRapat Evaluasi Kerja NUCIMbelumnya. Dibuka oleh wakil bendahara, M. Miqdam Makfi, rapat dilanjutkan dengan prakata Ust. Liling Sibromalisi selaku Rois Syuriah dan kemudian dipimpin oleh Ust. Ahmad sendiri selaku Ketua Tanfidziyah.

Laporan kerja pertama dari Bidang Kaderisasi dan Pendidikan dibawakan oleh Robith, Firdaus, MA. selaku wakil ketua tanfidziyah penanggung jawab bidang tersebut. Sebelum menyampaikan laporan kerjanya, Robith menjelaskan bahwa dalam pertemuan gabungan Bidang Kaderisasi dan Pendidikan serta Bidang Dakwah Pemikiran yang dibawahi oleh Mawhiburrahman, Lc., diputuskan untuk mengadakan sedikit perombakan struktural pengurus kedua bidang itu.

Secara lebih detail, Mawhiburrahman menjelaskan bahwa mengacu pada AD/ART PBNU, bentuk yang semestinya ada dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama adalah Lembaga dan Lajnah, bukan bidang-bidang yang selama ini ada di NUCIM. Untuk itu, demi meningkatkan efektivitas kerja kedua bidang itu, ditambah dengan adanya beberapa tubrukan program kerja antara keduanya, rapat gabungan beberapa minggu lalu yang dilaksanakan di UIA memutuskan untuk merubah kedua bidang itu menjadi LDNU (Lembaga Dakwah Nahdlatul ULama) dan LAKPESDAM (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia).

Masuk pada laporan kerja kedua lembaga itu, Mawhiburrahman dan Robith saling melengkapi perihal rencana pengajian 3 bulanan dengan mengundang pembicara dari PBNU dan kajian reguler internal NUCIM.

Kabar terakhir, Bapak Mustofa Aqil dari PBNU sudah siap untuk datang ke Malaysia mengisi pengajian tersebut. Berdasarkan agenda beliau, kunjungan beliau ke Malaysia ditetapkan akan dilangsungkan pada tanggal 30 Juni dan 1 Juli tahun ini.

Menyikapi laporan ini, Ust. Ahmad dan beberapa pengurus lain segera berembug saat itu juga untuk menentukan lokasi pengajian bulan depan tersebut. Dan akhirnya diputuskan, alternatif pertama adalah kampung kediaman Ust. Sairi mengingat ada banyak masyarakat Nahdliyin yang bermukim di sana. Kalau memang nantinya setelah dikonfirmasikan ke seluruh masyarakat ternyata mereka tidak sanggup untuk mengadakan pengajian pada tanggal yang ditentukan itu, maka lokasi akan dipindahkan ke kanton-kantong Nahdliyin lain di wilayah Kuala Lumpur. Kampung Payajaras, Kubu Gajah, Balakong, dan Semenyi merupakan beberapa alternatif yang disiapkan. Jika tiada satu lokasi pun yang memungkinkan untuk dijadikan tempat pengajian, maka pengajian tetap akan dilaksanakan di tempat yang ada, baik sekretariat NUCIM, atau mungkin menyewa gedung.

Di sisi lain, seperti dilaporkan Mawhiburrahman, bahwa kajian reguler telah dilaksanakan 1 kali di kampus UIA dan rencananya, esok hari, Sabtu 19 Mei ini, akan diadakan diskusi yang kedua dengan tema “Fatwa MUI: Sumber Konflik atau Kemaslahatan Publik?” dengan Robith Firdaus, MA. selaku pemateri. Sedangkan kajian perdana dua minggu lalu diisi dengan tema “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” oleh Dr. Anis Malik Toha, salah satu dosen Indonesia di UIA.

Bidang lain yang juga menjadi sorotan pada evaluasi kerja ini adalah ekonomi. Setelah ditimbang-timbang kembali, akhirnya rencana pembuatan bisnis Digital Printing terpaksa digagalkan. Namun, ada alternatif bisnis NUCIM lain yang disepakati pada rapat ini. Pertama, bisnis tiket. Bendahara umum NUCIM, Bapak Nasihin telah menyediakan tempat di Rumah Makan Sunan Drajat, Gombak, untuk melakukan bisnis ticketing ini. Hanya kurang mencari person yang berkenan menjalankan bisnis ini. Disepakati, bahwa Ahmad Zaki Ghofur, ketua KMNU UIA, yang menjadi penanggung jawab untuk mencari orang di bisnis ini.

Kedua, penjualan mihun yang siap dimodali oleh Ust. Mohd. Hari. Rencananya bulan depan, beliau akan mendatangkan container dari Indonesia yang membawa mihun tersebut, kecap Cap Bangau, dan beberapa produk Tanah Air lainnya untuk dipasarkan di Malaysia. Seperti maklum diketahui bahwa produk-produk Indonesia cukup laris di Malaysia, terlebih untuk kasus mihun dan kecap, ada banyak restoran yang menyediakan bakso, soto, dan sebagainya. Tentu, kehadiran mihun dan kecap asli Indonesia akan dapat membuat mereka melirik. Sebagai penanggung jawab pemasaran di Malaysia adalah Pak Nasihin.

Setelah evaluasi kerja, rapat sedikit membahas rencana LPJ Panitia Pelantikan Pengurus yang pada akhirnya diputuskan untuk dilangsungkan pada hari Sabtu depan, 26 Mei 2012. Sebenarnya, acara pelantikan sendiri telah sukses dilaksanakan beberapa minggu lalu, namun LPJ belum sempat terlaksana karena ketua panitia, Ust. Muhammad, mempunyai urusan mendesak di Tanah Air yang memaksa beliau pulang meninggalkan Malaysia selama beberapa saat.

Rapat usai menjelang tengah malam dengan diakhiri iktikad bersama untuk secara ikhlas memajukan ideologi Nahdlatul Ulama secara umum dan eksistensi NUCIM secara khusus. [Mc-V]

Last Updated on Saturday, 19 May 2012 14:16
 
KONFERCAB KE-3 PDF Print E-mail
Written by admin   
Thursday, 27 October 2011 09:24

 

 

UST LILING DAN UST AHMAD PIMPIN NU MALAYSIA

PERIODE 2011-2014

 

Minggu (23/10) palu sidang diketuk menandakan pengesahan Ust. Liling Sibromalisi sebagai Rais Syuriah dan Drs. KH. Ahmad Muidi Rafii sebagai Ketua Tanfidziyah PCINU Malaysia masa bakti 2011-2014. Keduanya resmi terpilih dalam Konferensi Cabang ke-3 PCINU Malaysia yang diselenggarakan di aula Sekolah Indonesia Kuala Lumpur.

Konfercab ke-3 ini dihadiri oleh warga NU Malaysia dari berbagai lapisan. Selain representasi lembaga-lembaga, partai, dan warga NU secara umum, turut diundang pula akademisi profesional Indonesia yang berdomisili di Malaysia. Undangan profesional ini diharapkan mampu meramaikan dialog interaktif bersama Ketua PBNU, Bapak Slamet Efendi di pembukaan acara Konfercab.

Walau sempat tertunda setengah jam sebelum akhirnya dimulai pada pukul 10.00, acara tetap berjalan lancar. Ketua Tanfidziyah demisioner, Ust. Amin Fadlillah menyayangkan peserta yang hadir tidak memenuhi target awal (200 peserta). Namun beliau cukup puas dengan kesuksesan acara yang diagendakan tiap 3 tahun sekali tersebut.

Muhammad, ketua panitia penyelenggara Konfercab juga merasa puas dengan kinerja anak buahnya yang cukup solid dalam memandu acara. Memang tiada gading yang tak retak dan perlu selalu adanya evaluasi. Akan tetapi, secara umum, panitia telah mampu membawakan acara yang baik.

Ditemui setelah Konfercab, Ust. Ahmad, Ketua Tanfidziyah terpilih menegaskan bahwa beliau akan berusaha untuk mengembangkan PCINU Malaysia ke depan nanti. Lebih jauh, beliau juga menggaris-bawahi rekomendasi-rekomendasi yang telah disepakati oleh sidang Konfercab ke-3 untuk direalisasikan di masa kepemimpinannya.

Di lain pihak, Ust. Liling selaku Rais Syuriah terpilih mengingatkan bahwa maju-mundurnya PCI NU Malaysia tidak mutlak bergantung pada dua orang yang terpilih di Konfercab. Justru yang lebih menentukan adalah peran aktif seluruh lapisan warga NU Malaysia, baik pengurus maupun warga secara umum, dari lapisan akademisi, tenaga kerja, maupun lainnya.[Mc-V]

 

Last Updated on Thursday, 27 October 2011 09:26
 
KONFERCAB KE-3 PDF Print E-mail
Written by admin   
Thursday, 27 October 2011 09:14

KH. Slamet Effendi Yusuf: Bedakan NU sebagai Jama’ah dan Jam’iyyah

Kuala Lumpur- Acara Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama Cabang Istimewa Malaysia (Konfercab NUCIM) di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur pada Minggu (23/10) berlangsung berbeda. Ada sesi dialog yang menghadirkan KH. Slamet Effendi Yusuf, Ketua PBNU, sebagai pembicara. Sesi dialog itu sendiri dijadikan pembuka dari serangkaian acara resmi Konfercab yang berlangsung selama sehari penuh dan diikuti oleh sekitar seratusan peserta.

Dalam dialog yang dimoderatori Robitul Firdaus tersebut, KH. Slamet Effendi Yusuf menekankan pentingnya mendakwahkan nilai-nilai dasar yang menjadi pedoman Nahdlatul Ulama selama ini. Tawassuth (netral), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan amar Makruf Nahi Munkar adalah sebagian dari nilai-nilai dasar yang beliau contohkan pada hari itu. “Keempat nilai tersebut diaplikasikan dengan tanpa memandang suku bangsa”, terangnya. “Dalam konteks itulah, NU memiliki cabang Istimewa di Malaysia, karena memang nilai-nilai yang didakwahkan oleh NU sifatnya universal”, tambahnya.

Menyinggung mengenai jumlah warga NU di Malaysia, beliau mengatakan bahwa meskti tidak memiliki database resmi, namun diyakini bahwa jumlah warga NU tetap relatif dominan bila mengacu pada daerah asal Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ada di Malaysia. “Madura, Bawean, dan Jawa pada umumnya mayoritas ya warga NU” Kata pria yang juga menjabat ketua GP Ansor tersebut. Meski demikian, KH. Slamet Effendi Yusuf mengingatkan para pengurus NU Cabang Istimewa Malaysia untuk tidak terbuai dengan angka statistik atau banyaknya anggota. Menurut beliau yang jauh lebih penting adalah berjalannya roda dan sistem organisasi NU secara profesional dan berkelanjutan.

“Harus dibedakan antara NU sebagai jama’ah dan jam’iyyah. Kalau jama’ah itu padanan katanya community, sedang kalau jam’iyyah itu merujuk pada organisasi. Tanpa ada NU sekalipun, jama’ah akan tetap terus jalan. Tapi kalau jam’iyyah tidak bisa begitu”. Menurut beliau, NU sebagai jam’iyyah atau organisasi hanya bisa dikatakan berhasil kalau proses kaderisasi dan perwakilan kepemimpinan sampai di tingkatkan kecil berjalan dengan efektif. “Kalau NU di Malaysia disebut cabang, ya berarti ia harus punya wakil cabang dan ranting-ranting di bawahnya”, jelasnya.

Pada sesi dialog, pertanyaan seputar boleh tidaknya warga Indonesia yang telah menjadi warga Malaysia menjabat sebagai pengurus NUCIM sempat mengemuka. Menurut KH. Slamet Effendi Yusuf, hal itu tidak menjadi masalah dan diperbolehkan, bahkan sudah seharusnya peran serta warga setempat atau penduduk asli Malaysia lebih ditingkatkan. “NU itu ya Nahdlatul Ulama, dan ga ada yang namanya NU Indonesia. NU ya NU. Tanpa ada tambahan Indonesia. Jadi ya ga ada masalah”, katanya.

Apa yang disampaikan oleh KH. Slamet Effendi Yusuf ini sebenarnya adalah tantangan bagi pengurus NU Cabangan Istimewa Malaysia yang baru terpilih. Semoga amanah yang akan diemban dalam periode tiga tahun ke depan dapat menjadikan NU semakin berkiprah di tengah masyarakat internasional di seluruh dunia. (RF)

Last Updated on Thursday, 27 October 2011 09:18
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 12

Event Terbaru

No events

Polling NUCIM

Apakah anda setuju pemisahan tegas fungsi syuriyah dan tanfidziyah
 

Random Image

  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow